Rabu, 21 September 2016

Rantau

Rantau. Satu kata sakral buatku yang sedari remaja ingin tahu rasanya menjadi perantauan. Ingin tahu rasanya jauh dari rumah, jauh dari orang tua dan teman-teman dekat. Beberapa kali ada kesempatan untuk merantau. Mulai dari selepas SMA dan diterima di jurisan sastra jerman di UnPad Bandung, akhirnya tetap sekolah di Surabaya. Lalu selepas kuliah D3 Sekretari, mencari kerja di Bali yang ujung-ujungnya kerja di Surabaya juga. Lalu ditawari untuk sekolah bahasa di China, yang digagalkan misinya begitu saja oleh Papi. Ya, memang selama ini sosok yang membuat aku bertahan di rumah adalah Papi. Beliau yang tidak pernah mengijinkanku keluar dari rumah dengan alasan yang setengah-setengah dan bahkan diriku sendiri tidak yakin bisa menghadapinya. Entah bagaimana, tapi papi bisa tahu apakah aku benar-benar siap atau tidak. Sampai akhirnya kesempatan merantau lainnya pun tiba. Kali ini dengan alasan yang kuat, tekad yang bulat dan kondisi yang mendukung, akhirnya aku merantau. Tidak tanggung-tanggung tujuan rantauku, Darwin, Australia. Jauh ke negeri orang dengan dua anak dibawah 5 tahun dan pekerjaan kontrak suami. Bisa dibilang cukup nekat. Namanya juga Arek Suroboyo, nek gak nekat gak bonek. Tapi kenekatanku ini bukan tidak didukung oleh hal-hal realistis lain. Aku benar-benar persiapkan mentalku sendiri dan anak-anak, persiapan materi yang Puji Tuhan sampai saat ini cukup, dan siapkan hati untuk meninggalkan Papi di rumah sendirian sepeninggal Mami Desember 2014 lalu. Setelah suami buka jalan selama 3 bulan di Darwin, akhirnya aku menyusul dengan anak-anak. Anak-anak bahagia disini karena banyak playground yang bagus dan bersih. Darwin sendiri adalah ibukota dari wilayah Northern Territory. Wilayah ini sepertinya wilayah paling tidak diminati oleh baik orang Australia sendiri maupun perantauan terlebih asal Indonesia. Iklimnya sama persis dengan Indonesia karena masuk iklim tropis. Jadi jangan ditanya panas dan lembabnya seperti apa. Pembangunan disini sepertinya juga tidak semassive kota-kota di bagian selatan. Kota ini bisa dibilang kota besar paling tertinggal se-Australia. Dibandingkan Surabaya yang sangat ramai, kota ini seperti kota kecil di provinsi Jawa Timur seperti Jombang atau Kediri. Tujuan wisata disini kebanyakan didominasi oleh wisata alam atau wildlife nya seperti buaya dan hewan-hewan lain. Wisata sejarahnya adalah peninggalan Perang Dunia kedua (WWII) seperti senjata, oil tunnel, juga gereja yang kena bom yang sekarang jadi katedralnya Darwin. Wisata belanja? Nope, disini paling banter blanja merk di shopping centre Casuarina yang hanya 2 lantai. Bangunan mewah? Nope. Dunia malam? Ya ada sih tapi bisa dihitung dengan jari di satu tangan. Kota ini benar-benar kota kecil. Tapi sebagai anak kota yang dilahirkan dan dibesarkan di kota sebesar Surabaya, aku gembira tinggal di kota sepi seperti ini. Apalagi orientasiku sekarang adalah untuk anak-anak. Jadi nggak pernah terlintas untuk gaya-gayaan ikutin fashion atau foto-foto di tempat nongkrong cantik. Bisa makan, minum, sekolahin, dan lesin Balet kakak sudah Syukur kepada Allah. Bahagiaku adalah akhirnya bisa menemani anak-anak kapanpun. Karena sebelumnya anak-anak selalu dengan Opa atau mbak Lin di rumah. Disini Mamci yang masak, bersin rumah, nyuci baju, main sama kakak adik, antar kakak sekolah, ajak main adik, urusin suami, dll. Kakak rupanya jauh lebih hebat dari yang kubayangkan. Dia bisa bertahan sekolah dan ikut les balet. Padahal kendala bahasa masih ada. Aku tidak mau Bahasa Indonesia anak-anak hilang, jadi kapanpun aku harus pakai bahasa ibu ke mereka. Dalam 5 bulan saja kemampuan bahasa Inggris anak-anak sudah luar biasa. Apalagi 5 tahun lagi...
Tapi selain bahagia, disinipun aku merasa sepi karena jauh dari keluarga besar, merasa lelah karena pekerjaan ibu rumah tangga itu luar biasa nggak ada habisnya, dan merasa inferior. Bule-bule itu benar-benar percaya diri. Paling gampang dari cara berpakaian, badannya kemana dan bajunya kemana. Cara mereka berkomunikasi benar-benar menunjukkan kalau mereka yakin pada diri mereka sendiri. Sedangkan aku? Lagi-lagi kendala bahasa dan banyak aturan disini yang belum aku tahu. Jadi mau apa-apa masih meraba-raba. Walaupun semakin hari akhirnya semakin baik karena mulai tahu dan terbiasa dengan ritmenya.

5 bulan disini merasa puas dengan kondisiku sekarang. Semoga kedepannya lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar