Selasa, 08 Januari 2019

Refleksi 2018

2018 sudah lewat. Sekarang sudah hampir di minggu ke 2 bulan Januari 2019. But hey, baru punya waktu sekarang untuk diam dan mengingat sehala hal yang terjadi tahun lalu. Bisa dibilang tahun lalu mungkin tahun terbaik untukku. Extremely happy from the beginning of the year till the end of December.

Awal tahun kami berlibur ke Brisbane. Ini hits! Pencapaian luar biasa untuk kami sekeluarga. Salut sama Pap Nunu yang dengan kerja kerasnya bisa bawa kami sekeluarga pergi. Kami bahagia. Anak-anak gembira.

Tengah tahun kami jalan-jalan ke Katherine ber5. Camping sana sini. Highlight banget bisa ajakin anak-anak hidup nomaden. Tiap malem pindah tempat. Mam capek sebenernya, tapi anak-anak hebat karena nggak mengeluh dan tetap gembira.

Akhir tahun kami pulang ke Indonesia. Puas. Luar biasa. Sebulan di Surabaya 😍

Itu dari segi jalan-jalan. Dari segi yang lain juga menyenangkan. Anak-anak makin baik penyesuaiannya di sekolah. Mam sudah pilih dari post natal syndrome yang bener-bener bikin kacau semuanya di tahun 2017. Pertemanan juga makin baik di tahun 2018.

Bersyukur sekali diberi tahun baik sekali 2018 kemarin. Semoga tahun ini kami bisa lebih baik lagi.
Sadar betul thn ini bakal banyak kerja keras. Untuk semua hal. Sungguh hal ini semua di depan mata. Semoga semua lancar. Kami bisa segera apply untuk bisa tinggal tetap disini. Ya, that means kerja keras tahun ini. Semoga kami masih bisa tetap bahagia dan gembira menjalankannya.

Kamis, 30 Agustus 2018

Melahirkan di air

Very late post. Seharusnya ini sudah ditulis sejak bulan Mei 2017.

Punya 2 anak dengan riwayat kehamilan resiko rendah dan melahirkan dengan spontan dan cepat tentu sangat menguntungkan saat harus hamil lagi untuk yang ketiga kalinya di negeri orang yang jauh dr sanak saudara dan juga mahal. Memang sejak kehamilan anak pertama, browsing dan baca tentang berbagai macam artikel kehamilan berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris sudah jadi santapan sehari-hari. Memang sih belum pernah baca buku yang terkenal 'what to expect...' itu, tapi mungkin jd lebih banyak pro dan kontra bacaannya. Salah satu yang menarik adalah tentang melahirkan di air atau water birth.

Di Surabaya sewaktu hamil kakak Tara thn 2012 sudah ada di RS tempat dia lahir. Tapi sepertinya masih belum terlalu populer dan biayanya lebih mahal dari lahiran spontan biasa di darat 😅 Lalu tahun berikutnya saat hamil mas Gili lagi-lagi karena alasan biaya jadi lebih baik lahiran spontan di darat dengan kamar perawatan kelas paling rendah yang jauh lebih murah.

Tibalah hamil anak ketiga. Hamil di negeri orang. Dengan segala peraturan dan biaya yang sangat mahal untuk urusan kesehatan ini, maka kami harus benar-benar selektif dalam menjalani kehamilan ini. Mulai dari biaya ke dokter umum yang cukup mahal ($60) tiap periksa yang mana hanya diperiksa tekanan darah saja, lalu banyak paperwork jadi wawancaranya lamaa sekali, dan rujukan tes ini itu yang banyak dan tentunya mahal. Terkesan seperti buang-buang uang karena saking banyaknya dan semuanya bersifat preventif atau screening. Akhirnya setelah 20 minggu kehamilan dirujuklah kami ke RS untuk ketemu dengan bidan dan dokter. Di bidan dengan banyak sekali paperworknya ada mungkin 1 jam hanya untuk wawancara dan isi form. Diperiksa tinggi fundus, tekanan darah dan detak jantung bayi. Lalu ke dokter. Di dokter hanya ditanya dikit dan selesai karena kehamilan resiko rendah. Mau diperiksa lagi lalu si dokter tanya apa tadi sudah diperiksa begini sama bidan dan dijawab iya lalu si dokter nggak jadi periksa. Setelah pulang dari RS datanglah tagihan. Bidan $326 dan dokter $400. Emosi rasanya harus bayar semahal itu untuk dokter yang tidak berbuat apapun.
Dari kejadian itu, mulailah browsing cari bidan yang praktek sendiri bukan yang ikut RS. Sayangnya nggak ketemu juga sampai akhirnya di minggu ke 36 telepon ke "home birth center". Setelah ngobrol-ngobrol dengan bidan Monika yang super baik dan sangat membantu, akhirnya diperbolehkan untuk bisa lahiran di Birth Center RDH. Mungkin kalau nggak ke Home birth center akhirnya nggak bisa lahiran di birth centernya karena memang untuk melahirkan ada tempat sendiri di lantai 6. Tapi syukurlah... anak dikasih rejekinya masing-masing sama Tuhan. Rejekinya bisa lahiran di birth center dengan cara water birth. Semua natural. Minim instruksi, nggak ada intervensi dan semua relax. Kakak Tara dan Mas Gili bisa lihat adiknya keluar. Adik keluar bersih. Nggak ada lemak-lemak, nggak ada darah, dan adik langsung dipegang Mam. Oh bahagianya lahiran se-alami itu. Dari air, kalau sudah siap bisa berdiri dan jalan ke bed. Enaknya bisa tiduran lagi. Ternyata melahirkan itu sangat melelahkan 😅
Adik imd, dan ngenyot terus. Itu tali pusat masih nempel. Masih belum dipotong. Dan kali ini yang potong harus Pap sendiri. Papnya deg2an plus senang. Bangga mungkin juga ya. Ada mungkin 20 menit lebih dari sejak keluar sampai dipotong tali pusatnya. Konon katanya itu lebih baik. Syukurlah anak Mam sehat. Semua sehat nggak ada yang kurang. Oh berat badan Adik 2.85 kg. Ini kecil untuk bayi bule. Kecil juga dibanding kakak 3.15 dan mas 3.25. Kenapa kecil padahal 40 minggu pas? Mungkin krn makanan Mam lebih bagus disini. Nggak banyak makan gorengan dan jajan macem2 seperti waktu di Surabaya. Karena bb yg cukup rendah utk ukuran bayi Australia, maka Adik diperiksa darahnya. Gula darahnya apa normal atau dibawah rata2. Ternyata semua normal. Kami tanda tangan pernyataan kalau kami mau bawa adik pulang krn bb segitu normal untuk anak Indonesia. Dan pulanglah kami ber 5 sekarang.
Selamat datang "Dimitri Ranubolo Cakrawala"

Been so long since the last time I posted the story of my life

What happen? Life happened. Hold on. Lots of stories coming through.

Entah kenapa aplikasi blogger di hp mendadak mogok. Padahal banyak banget ceritaaa. Aneh...

Well, I'm not mom of 2 anymore. Since the ladt 15 months, I am mom of 3. And I'm proud of it.

Selasa, 27 Desember 2016

Mudik (part 3-end)

Jadi setelah seminggu lebih di Surabaya yang isinya cuma males2an, akhirnya tiba juga waktu untuk kembali ke Darwin. Deg2an karena takut anak-anak nggak fit jadi pada cranky. Tapi sungguh anak-anak ini hebat. Bener-bener bantu maminya.
Saat di bandara Juanda Surabaya si mas Gili ngantuk jadi minta gendong terus. Sedangkan si kakak laper terus minta disuapin nasi sama ayam goreng terus. Jadilah agak rempong karena si mas Gili ngantuk. Tapi bukan ibu-ibu kalau nggak bisa bawa 2 anak plus mainannya naik pesawat 😅

Perjalanan dari Surabaya ke Denpasar aman. Sesampainya di Denpasar anak-anak cukup kooperatif dengan bantu untuk ambil bagasi dan pindah ke terminal internasional. Beruntungnya kami, waktu mau jalan ke terminal internasional, mobil kecil untuk shuttle sudah disediakan. Jadi kami batal jalan dengan bawaan koper penuh semua. Mobil shuttle ini gratis disediakan oleh bandara Ngurah Rai dari terminal Domestik ke Internasional begitu pula sebaliknya. Ada 2 mobil yang stand by disana. Sesampainya di terminal Internasional kami dibantu juga menurunkan koper besar yang berat dari mobil. Lalu kami menunggu. Ramenya bandara Internasional Ngurah Rai 😅

Kami menunggu di luar pintu untuk check in tiket. Karena memang jam kami terbang ke Darwin masih lewat tengah malam, jadi counternya belum dibuka. Disini anak-anak mulai kurang nyaman. Mereka mulai ngantuk, mulai bosan karena lama dan tempat tunggu yang kurang nyaman. Aku berusaha mengjibur dan ajak mereka main. Segala cara dilakukan. Sampai akhirnya waktunya bisa masuk untuk check in tiket.

Antrian panjang dan lama untuk check in. Setelah menunggu lama itu, ternyata pesawat delay. Delay dari yang seharusnya berangkat pk 00.55 jadi ke pk 14.00. Lamanya... dan syukurlah kami diberi kompensasi menginap di hotel Novotel yang ada di Bandara. keuntungan buatku. Anak-anak jadi bisa istirahat. Walaupun akhirnya ketemu pap jadi mundur. Tak apalah yang penting mereka dapat cukup istirahat pikirku. Di hotel Novotel yang cukup mewah ini, anak-anak senang. Walaupun hanya untuk tidur sebentar tapi mereka menikmati waktu disana. Kakak tidur lelap sampai pagi. Kami sampai melewatkan waktu breakfast di hotel. Untungnya kami masih punya jatah usd 35 per orang. Jadilah mam pesan makanan di resto hotel. Pesan sup buntut untuk sarapan anak-anak. Dan mereka lahap makan. Pesan pancakes juga. Senangnya 😊

Tiba saatnya kami harus melanjutkan perjalanan ke Darwin. Seperti biasa mam deg-degan kalau naik pesawat bersama krucils. Takut mereka bosan karena perjalanan 2,5 jam cukup lama ya. Badan sudah mulai nggak fit, kuping berdengung dan sakit banget waktu landing. Perjalanan lancar aman. Sampai di Darwin sesuai waktunya. Yang lama antri pemeriksaan barang. Karena bawa makanan kami harus declare. Jadilah antri itu yang lama sekali.

Pap sudah menunggu di depan pintu keluar. Anak-anak bahagia ketemu pap nya. Mam tetep dorong troley penuh barang 😂

Dan kehidupan kami di Darwin berjalan seperti biasanya 😊

Sabtu, 17 Desember 2016

Mudik part 2

Tertunda beberapa lama untuk nulis tentang mudik. Masih jetlag 😅😅 beda 2.5 jam aja jetlag 😜

Jadi ternyata... liburan yang kukira akan menyenangkan, sungguh menyenangkan. Bagi anak2 😅 saking senengnya anak2 ketemu sama sepupunya, sampai mereka main terus dan sampai kecapekan dan sampai demam 😭
Di Surabaya akhirnya musti santai. Ga terlalu sibuk. Tiap hari belum tentu pergi. Karena takut anak2 kecapekan dan sakit lagi. Kalau sampai sakit yang paling ditakutkan waktu balik ke Darwin. Tengah malam penerbangannya.

Tiap hari dihabiskan oleh bermain dan bermain. Kangen-kangenan sama makanan Surabaya juga jadi agak tertunda. Nggak sempat makan banyak. Rupanya hamil kali ini nggak bisa makan banyak. Badan maminya tetep aja segini. Baby nya sehat sesuai dgn usia kandungan. Semoga sehat smp lahiran spontan disini nanti.

Jumat, 25 November 2016

Mudik part 1

Akhirnya... selama 8 bulan di Darwin, sekarang dapet kesempatan mudik. Sayangnya hanya bertiga sama anak-anak. Tapi ini pun sudah bersyukur banget. Perjalanan berangkat luar biasa mulus. Kakak pinter bisa bantuin mamnya. Anak-anak gembira sepanjang perjalanan. Berangkat dari Darwin jam 22.50 naik jetstar. Lalu tiba di Denpasar jam 00.10 sesuai dengan eta di tiket. Luar biasa. Kakak Tara dan Mas Gili luar biasa hebat. Disuruh tidur ya tidur. Disuruh bangun ya bangun. Mami terharu punya anak-anak pinter 😂
Sesampainya di Denpasar lalu inep di hotel Harris. Deket banget sama bandara. Itupun anak-anak kooperatif juga. Sepertinya akan menjadi liburan yang menyenangkan... 😘😘

Jumat, 11 November 2016

Kehamilan ketiga (part 2)

Sekarang mulai enakan karena trimester pertama sudah terlewati. 12 weeks pertama yang sangat menantang. Mual, pusing dan capeknya luar biasa. Sekarang gimana? Makin kerasa capeknya. Dulu waktu hamil anak 1 dan 2 dengan kondisi masih kerja lebih mudah rasanya. Mungkin karena masih usia dibawah 30 tahun ya. Sekarang sudah 31. Tulang belulangku sudah ikut tua. Jadilah jam 2 atau 3 gitu sudah berasa mau lepas semua ini sendi-sendinya.

Food craving? Masiiiih. Nambah malah. Pengen kebab abal-abal ala surabaya, bakwan goreng kapasari, batagor wm, soto ayam cak to. Pengen makan semuanya rasanya... 2 minggu lagi aku dan anak-anak akan pulang ke Surabaya. Senengnya bukan main. Sudah mulai pesen ini itu. Mana nanti di rumah juga ada acara makan-makan. Jadi senengnya dobel. Ketemu orang-orang tersayang dan makaaaann...

Semoga sukses nanti kepulanganku dengan bawa 2 anak masih krucils ini.