Selasa, 27 Desember 2016

Mudik (part 3-end)

Jadi setelah seminggu lebih di Surabaya yang isinya cuma males2an, akhirnya tiba juga waktu untuk kembali ke Darwin. Deg2an karena takut anak-anak nggak fit jadi pada cranky. Tapi sungguh anak-anak ini hebat. Bener-bener bantu maminya.
Saat di bandara Juanda Surabaya si mas Gili ngantuk jadi minta gendong terus. Sedangkan si kakak laper terus minta disuapin nasi sama ayam goreng terus. Jadilah agak rempong karena si mas Gili ngantuk. Tapi bukan ibu-ibu kalau nggak bisa bawa 2 anak plus mainannya naik pesawat 😅

Perjalanan dari Surabaya ke Denpasar aman. Sesampainya di Denpasar anak-anak cukup kooperatif dengan bantu untuk ambil bagasi dan pindah ke terminal internasional. Beruntungnya kami, waktu mau jalan ke terminal internasional, mobil kecil untuk shuttle sudah disediakan. Jadi kami batal jalan dengan bawaan koper penuh semua. Mobil shuttle ini gratis disediakan oleh bandara Ngurah Rai dari terminal Domestik ke Internasional begitu pula sebaliknya. Ada 2 mobil yang stand by disana. Sesampainya di terminal Internasional kami dibantu juga menurunkan koper besar yang berat dari mobil. Lalu kami menunggu. Ramenya bandara Internasional Ngurah Rai 😅

Kami menunggu di luar pintu untuk check in tiket. Karena memang jam kami terbang ke Darwin masih lewat tengah malam, jadi counternya belum dibuka. Disini anak-anak mulai kurang nyaman. Mereka mulai ngantuk, mulai bosan karena lama dan tempat tunggu yang kurang nyaman. Aku berusaha mengjibur dan ajak mereka main. Segala cara dilakukan. Sampai akhirnya waktunya bisa masuk untuk check in tiket.

Antrian panjang dan lama untuk check in. Setelah menunggu lama itu, ternyata pesawat delay. Delay dari yang seharusnya berangkat pk 00.55 jadi ke pk 14.00. Lamanya... dan syukurlah kami diberi kompensasi menginap di hotel Novotel yang ada di Bandara. keuntungan buatku. Anak-anak jadi bisa istirahat. Walaupun akhirnya ketemu pap jadi mundur. Tak apalah yang penting mereka dapat cukup istirahat pikirku. Di hotel Novotel yang cukup mewah ini, anak-anak senang. Walaupun hanya untuk tidur sebentar tapi mereka menikmati waktu disana. Kakak tidur lelap sampai pagi. Kami sampai melewatkan waktu breakfast di hotel. Untungnya kami masih punya jatah usd 35 per orang. Jadilah mam pesan makanan di resto hotel. Pesan sup buntut untuk sarapan anak-anak. Dan mereka lahap makan. Pesan pancakes juga. Senangnya 😊

Tiba saatnya kami harus melanjutkan perjalanan ke Darwin. Seperti biasa mam deg-degan kalau naik pesawat bersama krucils. Takut mereka bosan karena perjalanan 2,5 jam cukup lama ya. Badan sudah mulai nggak fit, kuping berdengung dan sakit banget waktu landing. Perjalanan lancar aman. Sampai di Darwin sesuai waktunya. Yang lama antri pemeriksaan barang. Karena bawa makanan kami harus declare. Jadilah antri itu yang lama sekali.

Pap sudah menunggu di depan pintu keluar. Anak-anak bahagia ketemu pap nya. Mam tetep dorong troley penuh barang 😂

Dan kehidupan kami di Darwin berjalan seperti biasanya 😊

Sabtu, 17 Desember 2016

Mudik part 2

Tertunda beberapa lama untuk nulis tentang mudik. Masih jetlag 😅😅 beda 2.5 jam aja jetlag 😜

Jadi ternyata... liburan yang kukira akan menyenangkan, sungguh menyenangkan. Bagi anak2 😅 saking senengnya anak2 ketemu sama sepupunya, sampai mereka main terus dan sampai kecapekan dan sampai demam 😭
Di Surabaya akhirnya musti santai. Ga terlalu sibuk. Tiap hari belum tentu pergi. Karena takut anak2 kecapekan dan sakit lagi. Kalau sampai sakit yang paling ditakutkan waktu balik ke Darwin. Tengah malam penerbangannya.

Tiap hari dihabiskan oleh bermain dan bermain. Kangen-kangenan sama makanan Surabaya juga jadi agak tertunda. Nggak sempat makan banyak. Rupanya hamil kali ini nggak bisa makan banyak. Badan maminya tetep aja segini. Baby nya sehat sesuai dgn usia kandungan. Semoga sehat smp lahiran spontan disini nanti.

Jumat, 25 November 2016

Mudik part 1

Akhirnya... selama 8 bulan di Darwin, sekarang dapet kesempatan mudik. Sayangnya hanya bertiga sama anak-anak. Tapi ini pun sudah bersyukur banget. Perjalanan berangkat luar biasa mulus. Kakak pinter bisa bantuin mamnya. Anak-anak gembira sepanjang perjalanan. Berangkat dari Darwin jam 22.50 naik jetstar. Lalu tiba di Denpasar jam 00.10 sesuai dengan eta di tiket. Luar biasa. Kakak Tara dan Mas Gili luar biasa hebat. Disuruh tidur ya tidur. Disuruh bangun ya bangun. Mami terharu punya anak-anak pinter 😂
Sesampainya di Denpasar lalu inep di hotel Harris. Deket banget sama bandara. Itupun anak-anak kooperatif juga. Sepertinya akan menjadi liburan yang menyenangkan... 😘😘

Jumat, 11 November 2016

Kehamilan ketiga (part 2)

Sekarang mulai enakan karena trimester pertama sudah terlewati. 12 weeks pertama yang sangat menantang. Mual, pusing dan capeknya luar biasa. Sekarang gimana? Makin kerasa capeknya. Dulu waktu hamil anak 1 dan 2 dengan kondisi masih kerja lebih mudah rasanya. Mungkin karena masih usia dibawah 30 tahun ya. Sekarang sudah 31. Tulang belulangku sudah ikut tua. Jadilah jam 2 atau 3 gitu sudah berasa mau lepas semua ini sendi-sendinya.

Food craving? Masiiiih. Nambah malah. Pengen kebab abal-abal ala surabaya, bakwan goreng kapasari, batagor wm, soto ayam cak to. Pengen makan semuanya rasanya... 2 minggu lagi aku dan anak-anak akan pulang ke Surabaya. Senengnya bukan main. Sudah mulai pesen ini itu. Mana nanti di rumah juga ada acara makan-makan. Jadi senengnya dobel. Ketemu orang-orang tersayang dan makaaaann...

Semoga sukses nanti kepulanganku dengan bawa 2 anak masih krucils ini.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Kehamilan ketiga (part1)

Hari ini usia kandunganku masih 8 week dan beberapa hari. Hamil kali ini sangat berbeda dengan dua sebelumnya. Mual dan pusing diawal trimester sangat kuat. Sampai-sampai berat badanku turun 2 kilo. Kadang stres kalau lihat timbangan kalau turun begini beratnya. Gimana nggak turun yah, nggak bisa makan teratur, nggak bisa masak, dan nggak bisa makan apa aja. Jadi sangat rindu rumah papi. Rindu dimasakin masakan rumah sama Lek Yam. Ngidam pun makanan yang ada di Surabaya semua. Pengen banget mie kriting medan jalan kapas krampung. Itu enaaak... bakwan kapasari kuah-kuah gitu. *ngetiksambilngiler

Oh ya, hasil tes darah 2 minggu lalu sudah keluar. Puji Tuhan semua normal seperti biasanya. Jadi meminimalisir pergi ke dokter dan tes-tes yang lain. Cukup bikin keki kemarin waktu ke dokter dan dibilang kl semuanya baik-baik aja dan selesai. Bayarnya $60. Resiko hamil di Australia dan nggak punya asuransi yang cover kehamilan.

Berikut-berikutnya akan update terus mengenai hamil disini yang jauh dari rumah dan sambil jaga anak 2.

Senin, 26 September 2016

Surpriseee!!!!

Mendadak diberi kejutan oleh Tuhan. Kemarin siang iseng beli testpack dan garisnya dua 😑😄😣😂😁😚😙
Kaget. Senang. Sedih. Bangga.
Perasaan campur aduk 😅😅
What will happen to baby number 3???
Selama ini kukira Tuhan akan kasih 2 anak saja cukup. Kami pakai pengaman. Tapi jelaslah kalau rencana kita bukan rencanaNya. Pasti ada sesuatu dibalik ini.
Begitu keluar garis 2 perasaan pertama adalah khawatir, karena kami baru saja memutuskan untuk sekolah lagi dan bekerja. Kekhawatiran ke Gili belum selesai dan sekarang malah bertambah. Selama ini belum rela melepaskan Gili untuk diasuh di tempat lain dan ternyata Gili memang masih akan sama Mam sampai Gili siap untuk dilepas. Tuhan rupanya menjawab doa mam nak...

Well, congratulate me! Senang diberi kepercayaan lagi sama Tuhan untuk asuh anak lagi. Semoga Tuhan selalu lindungi keluargaku.

Oh ya, karena kali ini hamil di Darwin, jadi belum tahu gimana-gimananya... mau ke dokter tapi ke dokter siapa dan dimana masih bingung 😅

Rabu, 21 September 2016

Rantau

Rantau. Satu kata sakral buatku yang sedari remaja ingin tahu rasanya menjadi perantauan. Ingin tahu rasanya jauh dari rumah, jauh dari orang tua dan teman-teman dekat. Beberapa kali ada kesempatan untuk merantau. Mulai dari selepas SMA dan diterima di jurisan sastra jerman di UnPad Bandung, akhirnya tetap sekolah di Surabaya. Lalu selepas kuliah D3 Sekretari, mencari kerja di Bali yang ujung-ujungnya kerja di Surabaya juga. Lalu ditawari untuk sekolah bahasa di China, yang digagalkan misinya begitu saja oleh Papi. Ya, memang selama ini sosok yang membuat aku bertahan di rumah adalah Papi. Beliau yang tidak pernah mengijinkanku keluar dari rumah dengan alasan yang setengah-setengah dan bahkan diriku sendiri tidak yakin bisa menghadapinya. Entah bagaimana, tapi papi bisa tahu apakah aku benar-benar siap atau tidak. Sampai akhirnya kesempatan merantau lainnya pun tiba. Kali ini dengan alasan yang kuat, tekad yang bulat dan kondisi yang mendukung, akhirnya aku merantau. Tidak tanggung-tanggung tujuan rantauku, Darwin, Australia. Jauh ke negeri orang dengan dua anak dibawah 5 tahun dan pekerjaan kontrak suami. Bisa dibilang cukup nekat. Namanya juga Arek Suroboyo, nek gak nekat gak bonek. Tapi kenekatanku ini bukan tidak didukung oleh hal-hal realistis lain. Aku benar-benar persiapkan mentalku sendiri dan anak-anak, persiapan materi yang Puji Tuhan sampai saat ini cukup, dan siapkan hati untuk meninggalkan Papi di rumah sendirian sepeninggal Mami Desember 2014 lalu. Setelah suami buka jalan selama 3 bulan di Darwin, akhirnya aku menyusul dengan anak-anak. Anak-anak bahagia disini karena banyak playground yang bagus dan bersih. Darwin sendiri adalah ibukota dari wilayah Northern Territory. Wilayah ini sepertinya wilayah paling tidak diminati oleh baik orang Australia sendiri maupun perantauan terlebih asal Indonesia. Iklimnya sama persis dengan Indonesia karena masuk iklim tropis. Jadi jangan ditanya panas dan lembabnya seperti apa. Pembangunan disini sepertinya juga tidak semassive kota-kota di bagian selatan. Kota ini bisa dibilang kota besar paling tertinggal se-Australia. Dibandingkan Surabaya yang sangat ramai, kota ini seperti kota kecil di provinsi Jawa Timur seperti Jombang atau Kediri. Tujuan wisata disini kebanyakan didominasi oleh wisata alam atau wildlife nya seperti buaya dan hewan-hewan lain. Wisata sejarahnya adalah peninggalan Perang Dunia kedua (WWII) seperti senjata, oil tunnel, juga gereja yang kena bom yang sekarang jadi katedralnya Darwin. Wisata belanja? Nope, disini paling banter blanja merk di shopping centre Casuarina yang hanya 2 lantai. Bangunan mewah? Nope. Dunia malam? Ya ada sih tapi bisa dihitung dengan jari di satu tangan. Kota ini benar-benar kota kecil. Tapi sebagai anak kota yang dilahirkan dan dibesarkan di kota sebesar Surabaya, aku gembira tinggal di kota sepi seperti ini. Apalagi orientasiku sekarang adalah untuk anak-anak. Jadi nggak pernah terlintas untuk gaya-gayaan ikutin fashion atau foto-foto di tempat nongkrong cantik. Bisa makan, minum, sekolahin, dan lesin Balet kakak sudah Syukur kepada Allah. Bahagiaku adalah akhirnya bisa menemani anak-anak kapanpun. Karena sebelumnya anak-anak selalu dengan Opa atau mbak Lin di rumah. Disini Mamci yang masak, bersin rumah, nyuci baju, main sama kakak adik, antar kakak sekolah, ajak main adik, urusin suami, dll. Kakak rupanya jauh lebih hebat dari yang kubayangkan. Dia bisa bertahan sekolah dan ikut les balet. Padahal kendala bahasa masih ada. Aku tidak mau Bahasa Indonesia anak-anak hilang, jadi kapanpun aku harus pakai bahasa ibu ke mereka. Dalam 5 bulan saja kemampuan bahasa Inggris anak-anak sudah luar biasa. Apalagi 5 tahun lagi...
Tapi selain bahagia, disinipun aku merasa sepi karena jauh dari keluarga besar, merasa lelah karena pekerjaan ibu rumah tangga itu luar biasa nggak ada habisnya, dan merasa inferior. Bule-bule itu benar-benar percaya diri. Paling gampang dari cara berpakaian, badannya kemana dan bajunya kemana. Cara mereka berkomunikasi benar-benar menunjukkan kalau mereka yakin pada diri mereka sendiri. Sedangkan aku? Lagi-lagi kendala bahasa dan banyak aturan disini yang belum aku tahu. Jadi mau apa-apa masih meraba-raba. Walaupun semakin hari akhirnya semakin baik karena mulai tahu dan terbiasa dengan ritmenya.

5 bulan disini merasa puas dengan kondisiku sekarang. Semoga kedepannya lebih baik.

Kamis, 11 Agustus 2016

4 bulan lebih di Darwin

Tak terasa sudah 4 bulan lebih disini. Selama itu pula aku jadi ibu rumah tangga. Aku senang... bahagia bisa lihat anak-anak terus. Tapi juga ada stresnya karena di rumah terus. Walaupun setidaknya selama disini kami sudah pernah roadtriping ke Uluru, the red heart of Australia.

Minggu, 22 Mei 2016

Kakak Tara 4th birthday

Happy birthday kakak!

Pertama kalinya untuk kakak saat ulang tahun dirayakan di sekolah. Ya karena memang baru sekolah. Bukan karena baru ulang tahun 😁

Awalnya mam dan pap maunya ulang tahum sendiri seperti biasanya. Beli kue dan tiup lilin di rumah. Tapi karena kakak sudah sekolah dan sewaktu ditanya kakak mau ulang tahun dimana dia langsung jawab mau ulang tahum di sekolah. Jadilah mamnya bingung mau bawa apa di sekolahnya nanti. Setelah mikir dan nggak bisa browsing (internet habis! Disini data cepet banget habis) akhirnya belilah cupcakes kecil-kecil di woolworth alias woolish. Daripada bikin dan gagal, mending beli ajalah... lagipula enaknya disini nggak seperti di Indonesia yang kalau ulang tahun musti ngasih bingkisan ke temennya satu per satu, disini nggak perlu. Jadilah lumayan hemat cuma beli cupcakes sama muffin aja.

Sebelum hari ulang tahun, mam musti bilang dulu sama gurunya kalau anaknya mau ulang tahun di sekolah. Yang mengejutkan adalah gurunya sangat gembira dengan idenya. Mereka gembira kalau ada yang ulang tahun di sekolah. Waktunya juga disempetin pas waktu makan snack nya anak-anak di sekolah. Bebas boleh pilih orang tuanya. Menyenangkan sekali pokoknya berulang tahun di Darwin ini. Nggak pakai ribet.

Sekali lagi selamat ulang tahun Kakak. Mam, pap, dan adek sayang kakak 😘😘😘😘

Kamis, 28 April 2016

Mam boleh pergi sekarang

Oh my God. This is the first time she said that at school. She asked me to leave. After 7 days of school she finally get through this. And my first reaction was "really?" And my thought was like "you don't need me anymore kid? 😭😭" hehehe... 

Kamis, 31 Maret 2016

Hello Darwin!!

Kami sudah di Darwin seminggu ini 😊

This is really my dream that comes true! I'm living it today! 

So, just never stop dreaming. Dream big and believe that it will come on your way. 

Another post will be in details of what I'm doing here as a stay at home mom. 

Minggu, 20 Maret 2016

Anak-anakku sudah besar

Seharusnya ini postingan minggu lalu. 

Pagi ini di hari Minggu Palma, anak-anak untuk pertama kalinya masuk kelas sekolah minggu sendirian. Biasanya selalu diantar mamci dan papnu. Mereka berdua sangat kompak. Mau berada dalam kelas dan mengikuti instruksi kakak pembina nya. Mamci sempat ngintip lewat jendela. Karena baru pertama kalinya jadi mamci yang takut. Takut anak-anak tumbuh cepat. Ehehehe...
Setelah suasana terlihat kondusif, mamci mulai masuk ke dalam gereja. Lumayan bisa ikut misa. Bisa konsekrasi dengan tenang tanpa anak-anak. Lalu tibalah waktunya berkat. Biasanya anak-anak sekolah minggu selalu masuk ke gereja untuk menerima berkat dari Romo. Ditunggulah si kecil dan si kakak terima berkat lalu bisa difoto bersama-sama. Sampai lama ternyata yang muncul hanya kakak dan si kakak pembina. Oh no, dimana si kecil. Jangan-jangan adik lari-larian sampai hilang 😰
Ternyata... Adik nangis diluar dan digendong kakak pembina BIAK 😅
Lega lah mamci. Tapi ya gitu, ternyata adik belum siap berpisah dari mommy nya. 

Ah ternyata mereka belum tumbuh terlalu cepat... 😅😂😁
Kakak dan adik di dalam ruang kelas sekolah minggu. 

Rabu, 02 Maret 2016

Visa has been approved!

Thank Lord! Oh my God I'm so happy! 
Setelah kekhawatiran beberapa hari belakangan mengenai visa yang tak kunjung selesai, kemarin akhirnya email yang ditunggu-tunggu muncul di inbox. Senangnya tak terperi. Padahal sebelumnya lagi chat sm papnu tentang visa ini. Dan iseng cek mail (fetch nya di off soalnya) dan ada email dari embassy. 

So, what's next? Jadi, tiket yang sudah dibeli tanggal 25 nanti sudah pasti terpakai. Tadinya kami khawatir akan hal ini. Jadi, harus beneran nyari rumah disana (walopun bisanya cuma sewa). Jadi, packing harus lebih giat lagi. 

Terima kasih Tuhan. Semua berkat doa. 

Kamis, 25 Februari 2016

Percakapan aneh sebelum tidur

Mam: dedek besok belajar sepak bola aja ya?
Dek: mau tinju aja sm pap nunu
kak: aku juga mau sm pap nunu
Mam: kakak menari aja nanti sm mam
Kak: (mulai mewek) aku mau sama pap juga
Mam: iya udah semua main tinju

Intinya semua pengen main sama papnu. Mereka kangen karena sudah 2 bulan nggak ketemu. Tapi mereka belum bisa mengungkapkan kangen dengan kata kangen. 

Semua sayang pap 😘😘😊

Kamis, 18 Februari 2016

(Not so) Me Time!!!

Sejak menikah dan punya anak, me time adalah momen yang langka. Apalagi kondisi jarak jauh sama suami dengan 2 anak kecil. Untungnya karena masih kerja, jadi masih punya me time di kantor. Kemarin kebetulan nggak terlalu banyak kerjaan, jadi sempet-sempetnya mainan kutek. 
Sejak join oriflame bulan september lalu, mulai kumpulin lagi kutek-kutek. Jadi sekarang punya beberapa warna, dotting tools dan stripping tape. Mau coba main ombre juga tapi kemampuan belum ada 😅

Ini beberapa hasil iseng main kutek. 

Senin, 25 Januari 2016

Kapan...

Yap yap brafax sudah ada. Sekarang pertanyaannya kapan. Iya, kapan urus visa nya, kapan beli tiketnya, kapan beberesnya, kapan berangkatnya. Nah kan ya banyak banget kapannya. Belum bagaimana nya. Duh pusing pala babi deh ini. 
Meanwhile at home... Anak-anak makin manjaaaa... Mommy pusing nak... Hampir stress di rumah. Terutama Gili. Nempel terus. Minta mimik terus. Minta sama mam terus. Kan kasian kakak dek... 

Sekian kepenatan hari ini 😓😓

Minggu, 17 Januari 2016

Baru 3 minggu

Baru 3
minggu lebih beberapa hari ditinggal papnu ke Darwin. Tapi rasanya seperti sudah berbulan-bulan. Nggak gampang urus anak dua di rumah sendirian. Bukan masalah kebutuhan makan minumnya, tapi lebih ke kebutuhan bermainnya. Beberapa artikel sudah banyak yang mengulas pentingnya interaksi anak dengan sosok ayah. Ini benar-benar kerasa di rumah. Mereka mungkin jenuh. Bosan dengan kegiatan monoton yang mamci kasih. Hehehe 😁
Ibarat keripik singkong pedes, level fun mamci itu cuma di level 3. Level fun papnu di level 17 😊

Well, ya harus dinikmati. Setelah ini kami toh akan segera menyusul kesana. Harus mulai siap-siapin juga yang disini. Bagaimana opa akan sendirian di rumah dan kami harus pastikan papi baik-baik saja saat ditinggal. Sebenarnya anak mana yang tega ninggal orang tua yang tinggal satu. Tapi hidup di tempat lain adalah impian buatku. Dan kami berusaha memberi kehidupan yang lebih baik untuk anak-anak. Karena hidup adalah pilihan. Sering kali pilihan itu tidak mudah. Tapi harus dipilih. 

That's all for today. 

Jumat, 01 Januari 2016

Resolusi 2016

Gara-gara liat postingan di IG tentang resolusi, jadi kepengen juga bikin resolusi untuk tahun ini. Resolusinya,
1. Move and start a new life
2. Sekolah lagi
3. Baca buku minim sebulan 1 buku
4. Belajar masak
5. Lanjutin belajar njahit (sapa tau bisa menghasilkan)
6. Fokus suami dan anak 
Sudah itu aja resolusinya. Nggak muluk-muluk. Nggak ada yang bersifat materi. Nggak bertele-tele. 

Semoga semua tercapai. Amin.