Kamis, 30 Agustus 2018

Melahirkan di air

Very late post. Seharusnya ini sudah ditulis sejak bulan Mei 2017.

Punya 2 anak dengan riwayat kehamilan resiko rendah dan melahirkan dengan spontan dan cepat tentu sangat menguntungkan saat harus hamil lagi untuk yang ketiga kalinya di negeri orang yang jauh dr sanak saudara dan juga mahal. Memang sejak kehamilan anak pertama, browsing dan baca tentang berbagai macam artikel kehamilan berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris sudah jadi santapan sehari-hari. Memang sih belum pernah baca buku yang terkenal 'what to expect...' itu, tapi mungkin jd lebih banyak pro dan kontra bacaannya. Salah satu yang menarik adalah tentang melahirkan di air atau water birth.

Di Surabaya sewaktu hamil kakak Tara thn 2012 sudah ada di RS tempat dia lahir. Tapi sepertinya masih belum terlalu populer dan biayanya lebih mahal dari lahiran spontan biasa di darat 😅 Lalu tahun berikutnya saat hamil mas Gili lagi-lagi karena alasan biaya jadi lebih baik lahiran spontan di darat dengan kamar perawatan kelas paling rendah yang jauh lebih murah.

Tibalah hamil anak ketiga. Hamil di negeri orang. Dengan segala peraturan dan biaya yang sangat mahal untuk urusan kesehatan ini, maka kami harus benar-benar selektif dalam menjalani kehamilan ini. Mulai dari biaya ke dokter umum yang cukup mahal ($60) tiap periksa yang mana hanya diperiksa tekanan darah saja, lalu banyak paperwork jadi wawancaranya lamaa sekali, dan rujukan tes ini itu yang banyak dan tentunya mahal. Terkesan seperti buang-buang uang karena saking banyaknya dan semuanya bersifat preventif atau screening. Akhirnya setelah 20 minggu kehamilan dirujuklah kami ke RS untuk ketemu dengan bidan dan dokter. Di bidan dengan banyak sekali paperworknya ada mungkin 1 jam hanya untuk wawancara dan isi form. Diperiksa tinggi fundus, tekanan darah dan detak jantung bayi. Lalu ke dokter. Di dokter hanya ditanya dikit dan selesai karena kehamilan resiko rendah. Mau diperiksa lagi lalu si dokter tanya apa tadi sudah diperiksa begini sama bidan dan dijawab iya lalu si dokter nggak jadi periksa. Setelah pulang dari RS datanglah tagihan. Bidan $326 dan dokter $400. Emosi rasanya harus bayar semahal itu untuk dokter yang tidak berbuat apapun.
Dari kejadian itu, mulailah browsing cari bidan yang praktek sendiri bukan yang ikut RS. Sayangnya nggak ketemu juga sampai akhirnya di minggu ke 36 telepon ke "home birth center". Setelah ngobrol-ngobrol dengan bidan Monika yang super baik dan sangat membantu, akhirnya diperbolehkan untuk bisa lahiran di Birth Center RDH. Mungkin kalau nggak ke Home birth center akhirnya nggak bisa lahiran di birth centernya karena memang untuk melahirkan ada tempat sendiri di lantai 6. Tapi syukurlah... anak dikasih rejekinya masing-masing sama Tuhan. Rejekinya bisa lahiran di birth center dengan cara water birth. Semua natural. Minim instruksi, nggak ada intervensi dan semua relax. Kakak Tara dan Mas Gili bisa lihat adiknya keluar. Adik keluar bersih. Nggak ada lemak-lemak, nggak ada darah, dan adik langsung dipegang Mam. Oh bahagianya lahiran se-alami itu. Dari air, kalau sudah siap bisa berdiri dan jalan ke bed. Enaknya bisa tiduran lagi. Ternyata melahirkan itu sangat melelahkan 😅
Adik imd, dan ngenyot terus. Itu tali pusat masih nempel. Masih belum dipotong. Dan kali ini yang potong harus Pap sendiri. Papnya deg2an plus senang. Bangga mungkin juga ya. Ada mungkin 20 menit lebih dari sejak keluar sampai dipotong tali pusatnya. Konon katanya itu lebih baik. Syukurlah anak Mam sehat. Semua sehat nggak ada yang kurang. Oh berat badan Adik 2.85 kg. Ini kecil untuk bayi bule. Kecil juga dibanding kakak 3.15 dan mas 3.25. Kenapa kecil padahal 40 minggu pas? Mungkin krn makanan Mam lebih bagus disini. Nggak banyak makan gorengan dan jajan macem2 seperti waktu di Surabaya. Karena bb yg cukup rendah utk ukuran bayi Australia, maka Adik diperiksa darahnya. Gula darahnya apa normal atau dibawah rata2. Ternyata semua normal. Kami tanda tangan pernyataan kalau kami mau bawa adik pulang krn bb segitu normal untuk anak Indonesia. Dan pulanglah kami ber 5 sekarang.
Selamat datang "Dimitri Ranubolo Cakrawala"

Been so long since the last time I posted the story of my life

What happen? Life happened. Hold on. Lots of stories coming through.

Entah kenapa aplikasi blogger di hp mendadak mogok. Padahal banyak banget ceritaaa. Aneh...

Well, I'm not mom of 2 anymore. Since the ladt 15 months, I am mom of 3. And I'm proud of it.